satisficing vs maximizing

rahasia tetap bahagia dengan pilihan yang cukup baik

satisficing vs maximizing
I

Pernahkah kita menghabiskan waktu empat puluh lima menit hanya untuk memilih film di Netflix, lalu ujung-ujungnya malah ketiduran? Atau mungkin kita bolak-balik membaca review restoran di aplikasi ojek online sampai perut keburu perih dan jam makan siang habis? Saya sering mengalaminya. Kita semua pasti pernah. Kita sering berpikir bahwa memiliki banyak pilihan adalah kunci kebebasan. Secara logika, semakin banyak opsi, semakin mudah kita mencari yang terbaik. Tapi anehnya, realita tidak bekerja seperti itu. Kelimpahan pilihan justru membuat kita lelah, cemas, dan seringkali berakhir tidak puas. Kok bisa begitu? Mengapa sesuatu yang seharusnya menyenangkan malah terasa seperti pekerjaan menguras mental?

II

Mari kita mundur sedikit ke zaman nenek moyang kita hidup berpindah-pindah. Pada masa itu, opsi kehidupan sangat terbatas. Mau makan? Pilihannya hanya berburu hewan atau mengumpulkan buah dan jamur. Otak kita secara evolusioner dirancang untuk memilah secara ketat demi bertahan hidup. Kalau salah pilih jamur, nyawa taruhannya. Jadi, mencari yang "paling baik" adalah insting dasar. Masalahnya, insting purba ini terbawa sampai ke abad ke-21, di mana dunia sudah berubah drastis. Kita sekarang hidup di era hiper-konsumsi. Di rak minimarket saja ada puluhan jenis pasta gigi dengan janji yang berbeda-beda.

Seorang psikolog bernama Barry Schwartz menyebut fenomena ini sebagai paradox of choice. Ketika pilihan terlalu melimpah, sirkuit di otak kita mengalami kelebihan beban. Bukannya merasa merdeka, kita malah merasa terjebak. Menyadari kerumitan pikiran manusia ini, seorang ekonom dan psikolog pemenang hadiah Nobel, Herbert Simon, pernah melempar sebuah gagasan brilian pada tahun 1950-an. Ia mencoba membedah bagaimana manusia mengambil keputusan. Ternyata, kita bisa membaginya ke dalam dua kubu besar yang sangat bertolak belakang.

III

Kubu pertama adalah kaum maximizer. Mungkin di antara teman-teman ada yang sangat relate dengan ini. Seorang maximizer selalu menginginkan yang paling absolut dan sempurna. Sebelum membeli handphone, mereka akan membuat spreadsheet perbandingan harga, mengecek spesifikasi sampai ke milimeter, dan menonton puluhan video review. Tujuannya satu: tidak boleh ada penyesalan.

Kubu kedua disebut satisficer—sebuah istilah yang digabung dari kata satisfy (memuaskan) dan suffice (mencukupi). Seorang satisficer punya cara main yang beda. Mereka menentukan kriteria dasar di awal. Misalnya, "Saya butuh handphone yang kameranya jernih, memorinya besar, dan harganya di bawah lima juta." Begitu mereka masuk toko dan menemukan barang yang memenuhi syarat itu, mereka langsung beli. Selesai. Mereka tidak peduli kalau di toko sebelah mungkin ada diskon ekstra atau varian warna yang lebih bagus. Nah, secara hitung-hitungan logika, si maximizer pasti akan mendapat barang yang kualitasnya lebih tinggi, bukan? Usaha keras tidak akan mengkhianati hasil. Tapi, tunggu dulu. Apakah barang yang lebih bagus itu otomatis menjamin perasaan yang lebih bahagia di akhir hari? Di sinilah sains menemukan sebuah anomali yang akan mengubah cara kita melihat hidup.

IV

Inilah rahasianya. Berbagai studi psikologi modern menemukan fakta yang cukup menampar tentang sifat dasar manusia. Kaum maximizer memang sering mendapatkan hasil akhir yang secara objektif lebih baik. Dalam urusan karier, misalnya, sebuah penelitian menunjukkan lulusan universitas yang punya sifat maximizer berhasil mendapat gaji awal yang lebih tinggi daripada teman-temannya. Tapi, ada harga mahal yang harus mereka bayar secara mental.

Secara subjektif, kaum maximizer terbukti jauh lebih tidak bahagia, lebih mudah stres, dan rentan terhadap depresi. Mengapa? Karena saat kita berusaha mencari yang paling sempurna, kita secara tidak sadar mengaktifkan FOMO (Fear of Missing Out) pada tingkat kronis. Otak kita tidak pernah beristirahat dan terus berbisik, "Jangan-jangan ada yang lebih bagus di luar sana?" Akhirnya, kebahagiaan mereka dirampok oleh ekspektasi mereka sendiri. Sebaliknya, kaum satisficer adalah pemenang sesungguhnya dalam keseharian. Mereka bukan orang pemalas yang asal terima nasib. Mereka hanya tahu persis kapan harus berhenti mencari. Bagi otak kita, berhenti pada pilihan yang cukup baik adalah sebuah bentuk efisiensi energi yang brilian.

V

Jadi, apa pelajaran berharga yang bisa kita bawa pulang? Saya sama sekali tidak mengajak teman-teman untuk membuang ambisi atau menurunkan standar hidup. Tentu saja, kita perlu menyimpan energi maximizer kita untuk keputusan-keputusan besar yang krusial. Memilih pasangan hidup, menentukan arah karier, atau membeli rumah impian jelas butuh ketelitian maksimal.

Tapi untuk urusan sehari-hari? Mari kita berdamai dengan otak kita. Untuk memilih menu makan siang, warna sepatu lari, atau tontonan di akhir pekan, beranikan diri untuk menjadi seorang satisficer. Tentukan kriteria dasarnya, temukan yang pas, beli, lalu nikmati pilihan itu tanpa perlu menengok ke belakang. Sains dan sejarah sudah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan tentang menemukan yang paling sempurna. Kebahagiaan adalah kemampuan kita untuk merasa cukup, di tengah dunia yang terus-menerus mendikte kita untuk mencari yang lebih. Nanti malam, kalau teman-teman mau menonton film, pilih saja satu yang gambarnya menarik, tekan play, dan selamat menikmati waktu istirahat. Kita pantas mendapatkannya.